Tuesday, November 4, 2025

Rapor Pemain Real Madrid usai Tumbang di Anfield: Courtois Heroik, Mbappe dan Huijsen Mengecewakan!

 

Real Madrid harus menelan kekalahan kedua mereka musim ini setelah tumbang 0–1 dari Liverpool pada laga Liga Champions di Anfield, Rabu (5/11/2025) dini hari WIB.

Datang dengan status salah satu dari lima tim sempurna di fase grup, Los Blancos datang ke Merseyside dengan tekad untuk memperpanjang rekor apik mereka itu. Namun menghadapi sang juara bertahan Inggris, wakil Spanyol itu harus pulang dengan kekecewaan.

Gol sundulan Alexis Mac Allister di menit ke-61 menjadi pembeda sekaligus mengakhiri catatan enam kemenangan beruntun Madrid.

Trent Alexander-Arnold yang diharapkan menjalani malam emosional di Anfield justru hanya bisa menyaksikan dari bangku cadangan saat mantan klubnya merayakan kemenangan besar secara emosional.

Berikut rapor pemain Real Madrid di laga ini:

Kiper

Thibaut Courtois – 9

Meski timnya kalah, performa Courtois di laga pantas diberi nilai tinggi. Tanpa kehadiran sang kiper, Real Madrid bakal menanggung malu yang lebih besar di Anfield.

Ia tampil luar biasa sepanjang laga dengan sederet penyelamatan mustahil yang menjaga Madrid dari kekalahan telak. Delapan penyelamatan dibuat sang kiper di laga ini.

Bek

Federico Valverde – 7

Dipasang sebagai bek sayap kanan oleh Xabi Alonso dan ia menunjukkan etos kerja luar biasa sepanjang laga.

Berlari tanpa henti untuk membantu serangan, ia juga disiplin saat bertugas di area pertahanan. Sebagai kapten, ia terus memotivasi timnya untuk mengejar ketertinggalan dari tuan rumah.

Eder Militao – 7

Solid dan disiplin, kerap harus bekerja sendiri karena minim bantuan dari rekan di lini belakang. Tetap tangguh dalam duel satu lawan satu.

Dean Huijsen – 3

Salah satu penampilan terburuk Huijsen setelah bergabung dengan Real Madrid. Eks bek Bournemouth itu terlihat kehilangan arah di laga ini.

Ia terlihat kesulitan menghadapi tekanan Liverpool, kerap kehilangan bola di area berbahaya, dan membuat sejumlah keputusan ceroboh. 

Alvaro Carreras – 6

Diplot sebagai bek kiri, Carreras melakukan tugasnya dengan baik untuk mengawal Mohamed Salah sehingga mesin gol Liverpool itu terlihat kesulitan untuk menciptakan peluang berbahaya.

Namun performanya terlihat menurun di babak kedua saat mulai kelelahan dan area belakangnya sering terekspos.


Gelandang

Aurelien Tchouameni – 6

Diplot sebagai jangkar, Tchouameni tampil cukup apik di laga ini. Ia beberapa kali memutus aliran serangan Liverpool. 

Namun sebagai gelandang, ia gagal membantu mendikte tempo permainan. Beberapa umpannya tidak akurat dan membuat permainan Madrid tersendat.

Eduardo Camavinga – 5

Di laga ini, Xabi Alonso menaruh Camavinga di posisi gelandang kanan. Posisi ini bukan posisi ideal Camavinga dan itu terlihat jelas dalam laga tadi.

Camavinga gagal beradaptasi dengan peran barunya dan terlihat tidak nyaman saat bermain. Ia kesulitan mengalirkan bola dengan cepat.

Arda Guler – 5

Arda Guler kembali dipercaya Xabi Alonso untuk menjadi starter di laga ini. Namun bocah ajaib asal Turki itu kesulitan untuk mengeluarkan potensi terbaiknya di laga ini.

Ia mendapatkan tekanan yang besar dari para pemain Liverpool, sehingga ia kerap membuat umpan-umpan yang salah dan itu mengganggu ritme permainan Los Blancos.

Jude Bellingham – 7

Bellingham bisa dikatakan sebagai salah satu pemain terbaik Real Madrid di laga ini. Meski ia gagal menciptakan gol atau assist bagi Los Blancos.

Ia tampil dengan determinasi penuh, aktif membantu pertahanan dan juga tidak segan-segan maju ke depan untuk membantu serangan. Namun sayang ia gagal membuat kontribusi yang apik di laga ini.


Lini Depan

Vinícius Junior – 6

Di awal laga, Vinicius tampil menjanjikan di mana kecepatannya membuat lini pertahanan Liverpool kesulitan. Namun perlahan tapi pasti, winger asal Brasil ini mulai dijinakkan oleh Conor Bradley.

Setelah itu ia gagal membuat peluang berbahaya bagi Real Madrid dan terlihat tidak berdaya selama 90 menit laga tersebut.

Kylian Mbappe – 4

Di laga ini, Kylian Mbappe diharapkan menunjukkan magisnya sebagai mesin gol utama Real Madrid di musim ini. Namun apa daya, sang penyerang justru tampil mengecewakan.

Sepanjang laga ia minim menebar ancaman ke gawang Liverpool. Ia kesulitan untuk melewati barisan pertahanan The Reds yang tampil solid di laga ini.


Pemain Pengganti


Rodrygo Goes – 5

Masuk untuk memberi energi baru, tapi justru sering mempersulit situasi dengan keputusan terburu-buru dan operan yang tidak efektif.

Trent Alexander-Arnold – 5

Tampil sebagai cameo melawan mantan klubnya, namun tak mampu memberi pengaruh berarti. Hanya sempat melepaskan satu umpan silang yang gagal menemukan sasaran.

Brahim Díaz – N/A

Mendapatkan menit bermain yang terlalu minim, sehingga kami tidak bisa memberikan penilaian untuk performanya.






Sunday, November 2, 2025

5 Debutan Terbaik MotoGP yang Kemudian Jadi Juara Dunia, Fermin Aldeguer Kapan Menyusul?

 

Fermin Aldeguer tak pelak lagi menjadi salah satu rider muda yang performanya mencolok di MotoGP 2025. Dalam Seri Malaysia, rider BK8 Gresini Racing ini pun sukses mengunci gelar Rookie of The Year (ROTY) alias debutan terbaik musim ini.

Sampai Seri Malaysia pula, Aldeguer telah mengoleksi 3 podium Sprint, serta 3 podium Grand Prix, termasuk kemenangan sensasionalnya di Mandalika, Indonesia. Ia berhasil mengalahkan para rookie lainnya, yakni Ai Ogura (Trackhouse Racing) dan Somkiat Chantra (LCR Honda).

Performa dan catatan gemilang Aldeguer ini tak bisa dimungkiri memicu ekspektasi lebih tinggi. General Manager Director Ducati Corse, Gigi Dall'Igna, bahkan menyebut rider berusia 20 tahun itu sebagai masa depan Ducati yang diharapkan bisa menyabet gelar dunia.

Sejak kelas MotoGP digulirkan pada 2002 sebagai pengganti kelas GP500, hanya ada lima rider peraih gelar ROTY yang mampu menjadi juara dunia kelas premier di kemudian hari. Nah, siapa saja sih mereka? Akankah Aldeguer mengikuti jejak mereka? Berikut ulasannya.


Nicky Hayden


Nicky Hayden menjalani debut MotoGP pada 2003 usai menyabet gelar juara AMA Superbike 2023. Di kelas para raja, rider asal Amerika Serikat ini membela Repsol Honda dan menjadi ROTY usai mengakhiri musim di peringkat kelima.

Hayden kemudian sukses menjadi juara dunia MotoGP 2006, mengalahkan Valentino Rossi. Ia menjadi rider pertama yang mematahkan rentetan gelar dunia 'The Doctor', yang sebelumnya menjuarai kelas tertinggi lima musim beruntun.


Jorge Lorenzo

Jorge Lorenzo menjalani debut MotoGP pada 2008 usai menyabet gelar dunia GP250 2006 dan 2007 bersama Aprilia. Ia digaet oleh Fiat Yamaha untuk dijadikan tandem Valentino Rossi. 'X-Fuera' pun menyabet gelar ROTY usai mengakhiri musim di peringkat keempat.

Lorenzo kemudian sukses menjadi juara dunia MotoGP untuk pertama kalinya pada 2010, mengalahkan rival bebuyutannya sejak belia, Dani Pedrosa. Rider asal Spanyol ini kemudian meraih dua gelar tambahan di MotoGP, yakni pada 2012 dan 2015.


Marc Marquez


Marc Marquez menjalani debut MotoGP pada 2013 usai menjuarai GP125 2010 dan Moto2 2012. Rider asal Spanyol ini digaet oleh Repsol Honda untuk dijadikan pengganti Casey Stoner, yang pensiun dini dalam usia 27 tahun pada akhir 2012.

Marquez pun menyabet gelar ROTY usai keluar sebagai juara dunia. Dalam era modern MotoGP, Marquez masih jadi satu-satunya rookie yang mampu jadi juara pada musim yang sama. Kini, Marquez telah mengantongi tujuh gelar dunia MotoGP.


Fabio Quartararo


Fabio Quartararo menjalani debut MotoGP pada 2019 meski hasil balapnya di kelas Moto3 dan Moto2 tidak mentereng. Ia pun digaet oleh tim satelit Yamaha saat itu, Petronas Yamaha SRT.

'El Diablo' menyabet gelar ROTY MotoGP 2019 setelah mengakhiri musim di peringkat kelima. Dua tahun kemudian, ia pindah ke skuad pabrikan Monster Energy Yamaha dan sukses menjadi juara dunia.

Jorge Martin

Jorge Martin menjalani debut MotoGP pada 2021 usai menjuarai Moto3 2018 dan menjalani musim yang kuat di Moto2 2020. Ia digaet oleh Pramac Racing, yang saat itu masih berstatus tim satelit Ducati. Ia menjadi ROTY usai menduduki peringkat kesembilan pada akhir musim.

Pada 2023, Martin berjibaku dengan Pecco Bagnaia dalam perebutan gelar dunia, tetapi harus legawa menjadi runner up. Pada 2024, rider berjuluk 'Martinator' ini pun balas dendam dan sukses jadi juara dunia, sebelum pindah ke Aprilia Racing musim ini.



Arsenal Tidak Punya Titik Lemah?

 

Arsenal tampil luar biasa saat menaklukkan Burnley dengan skor 2-0 pada pekan ke-10 Premier League 2025/2026, Sabtu (1/11) malam WIB. Bermain di Turf Moor Stadium, pasukan Mikel Arteta memperlihatkan kedewasaan dan efisiensi yang membuat mereka tampak nyaris tanpa celah.

Dua gol dari Victor Gyokeres pada menit ke-14 dan Declan Rice pada menit ke-35 memastikan The Gunners pulang dengan tiga poin sekaligus mempertahankan posisi mereka di puncak klasemen dengan 25 poin. Lebih dari itu, Arsenal juga memperpanjang catatan impresif tanpa kebobolan dalam tujuh laga beruntun di semua kompetisi.

Kemenangan ini bukan hanya soal skor, tetapi juga tentang karakter dan keseimbangan tim. Arsenal menunjukkan bagaimana tim besar seharusnya bermain, kuat di pertahanan, efektif di lini serang, dan berbahaya dalam setiap situasi bola mati.

Di bawah Arteta, The Gunners telah menjelma menjadi mesin kemenangan yang nyaris tanpa kelemahan. Bahkan, pandit sepak bola Inggris, Alan Shearer, tidak melihat Bukayo Saka dan kolega punya titik lemah.

Arsenal Unggul di Semua Aspek Permainan


Burnley, yang musim lalu dikenal tangguh di lini belakang dengan hanya kebobolan 16 gol dalam 46 laga Championship, sempat membuat Arsenal bekerja keras.

Namun, The Gunners tetap menemukan cara untuk menembus pertahanan disiplin itu melalui situasi bola mati. Gol pembuka Gyokeres lahir dari skema tendangan sudut, menjadi gol kedelapan Arsenal dari bola mati musim ini, jumlah terbanyak di Premier League dalam 10 laga pertama.

Secara total, 12 dari 18 gol Arsenal musim ini berasal dari situasi bola mati, menjadikan mereka tim paling efektif dalam memanfaatkan peluang jenis ini di seluruh divisi teratas Inggris.

Keunggulan ini menunjukkan bagaimana Arsenal berkembang bukan hanya dalam permainan terbuka, tapi juga dalam detail-detail kecil yang sering menentukan hasil pertandingan.

Dari Bola Mati ke Dominasi Total


Efektivitas Arsenal membuat banyak pandit sepak bola terkesima. Cara Arsenal memaksimalkan bola mati belum terbendung. Selain itu, bagaimana cara Arteta memainkan dua bek sayap juga mendapat catatan khusus.

“Saya tidak melihat kelemahan,” kata Alan Shearer, kepada BBC Sport.

“Mereka kembali mencetak gol dari bola mati, tetapi performa mereka jauh lebih baik dari itu. Saya suka cara mereka memanfaatkan Calafiori dan Timber di posisi yang lebih maju untuk menciptakan peluang dan memenangkan bola mati," tegas mantan bomber Timnas Inggris itu.


Saturday, November 1, 2025

Hasil BRI Super League, Bhayangkara FC vs Persita Tangerang: Gol Telat Damjanovic Selamatkan Bhayangkara dari Kekalahan

 

 Bhayangkara FC selamat dari kekalahan di pertandingan pekan ke-10 BRI Super League 2025/2026. Berhadapan dengan Persita TangerangThe Guardian mampu bermain imbang dengan skor 1-1.

Di laga ini, Persita unggul terlebih dahulu berkat gol Pablo Ganet. Namun Slavko Damjanovic sukses menyamakan kedudukan sehingga kedua tim berbagi satu angka.

Berkat hasil ini, Persita Tangerang bertengger di peringkat ketiga dengan raihan 18 poin dari 10 laga. Sementara Bhayangkara FC tertahan di peringkat ketujuh dengan raihan 15 poin dari 10 laga.

Simak jalannya pertandingan di bawah ini.


Babak Pertama

Pertandingan yang digelar di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung ini berjalan dengan tempo sedang. Kedua tim sama-sama berhati-hati dalam membangun serangan mereka.

Bhayangkara FC mengambil inisiatif serangan. Sementara Persita bermain lebih bersabar dan sesekali melepaskan serangan balik.

Peluang berbahaya pertama baru tercipta di menit ke-26. Lolos dari jebakan offside, Wahyu Subo Seto melepaskan sundulan yang berhasil ditepis Igor Rodrigues.

Tidak lama berselang, giliran Persita yang mengancam melalui tembakan menusuk Hokky Caraka dari sisi kanan yang bisa dihentikan oleh Aqil Savik. Javlon Gusyenov sempat mengancam melalui tendangan bebasnya, namun skor 0-0 tetap bertahan hingga turun minum.


Babak Kedua

Di babak kedua pertandingan berjalan seru. Persita Tangerang tampil lebih dominan atas tuan rumah dan membombardir pertahanan The Guardian dengan serangan-serangan yang mereka lancarkan.

Setelah melakukan sejumlah percobaan, Persita menjebol gawang Bhayangkara FC di menit ke-79. Memanfaatkan umpan matang dari Rayco, Pablo Ganet sukses menjebol gawang Aqil Savik sehingga tim tamu unggul 0-1 di laga ini.

Usai tertinggal, Bhayangkara FC meningkatkan intensitas serangan mereka. Di menit ke-86, The Guardian sukses menyamakan kedudukan setelah umpan Firza Andika diselesaikan dengan sempurna oleh Slavko Damjanovic menjadi gol. Skor kembali sama kuat 1-1.

Jual beli serangan antara kedua tim berlanjut. Namun skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.


Susunan Pemain Kedua Tim

Bhayangkara FC (4-3-3): Aqil Savik; Firza Andhika, Nehar Sadiki, Slavko Damjanovic, I Putu Gede Juni Antara; Lautaro Belleggia, Wahyu Subo Sseto, Moises Wolschichk; Sani Rizki Fauzi, Ginanjar Wahyu, Dendy Sulistyawan

Pelatih: Paul Munster

Persita Tangerang (4-3-3): Igor Rodrigues; Mario Jardel, Tamirlan Kozubaev, Ryuji Utomo, Muhammad Toha; Pablo Ganet, Bae Sin Yeong, Javlon Guseynov; Hokky Caraka, Andrejic Aleksa, Rayco Medina

Pelatih: Carlos Pena



Friday, October 31, 2025

Mario Aji Resmi Tetap Bela Honda Team Asia di Moto2 2026, Ngaku Waktunya Buktikan Diri

 

Pembalap muda Indonesia, Mario Aji, merasa sangat senang mendapatkan perpanjangan kontrak dari Idemitsu Honda Team Asia di Moto2 2026. Hal ini diumumkan skuad junior Honda tersebut pada Jumat (31/10/2025).

Mario, yang sudah didukung Honda sejak belia, menjalani kariernya di Grand Prix melewati sejumlah program 'Road to MotoGP', dimulai dari Asia Talent Cup 2018, di mana ia mengakhiri musim di peringkat kelima.

Selama tiga musim berikutnya, Mario pun berlaga di dua program Road to MotoGP yang lebih bergengsi, yakni Red Bull Rookies Cup dan CEV Moto3 Junior World Championship (kini bernama JuniorGP).


Masih Dipercaya untuk Tampil Kompetitif di Moto2


Pada 2021, Mario pun mendapatkan kesempatan untuk menjalani debut Grand Prix sebagai pembalap wildcard Honda Team Asia di Moto3 Emilia Romagna, sebelum akhirnya mendapatkan kontrak penuh pada 2022 dan 2023.

Pada 2024, Mario pun naik ke kelas Moto2, juga bersama Honda Team Asia. Sayangnya, Mario belum pernah mengecap podium. Awal musim ini, ia sempat tampil menjanjikan dengan finis kesembilan di Seri Austin, sebelum absen panjang akibat cedera.

Meski begitu, Honda Team Asia masih memberikan kepercayaan pada Mario untuk tampil kompetitif di Moto2 2026, di mana ia akan bertandem dengan Taiyo Furusato. Berikut pernyataan resmi pembalap berusia 21 tahun tersebut seperti yang dilansir dari rilis resmi tim.


Pernyataan Resmi Mario Aji

"Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada HRC, Honda, dan seluruh manajemen yang terus memberikan kepercayaan kepada saya.

"Tak banyak yang perlu dijelaskan: tahun depan, apa pun yang terjadi, saatnya untuk membuktikan diri. Saya harus menunjukkan bahwa semua orang yang masih percaya kepada saya telah membuat keputusan yang tepat.

"Saya merasa puas, tetapi saya tahu harus bekerja keras selama musim dingin ini agar hasilnya benar-benar berarti pada tahun 2026.

"Masih ada dua balapan tersisa musim ini, dan saya akan memberikan segalanya untuk belajar serta menyerap sebanyak mungkin hal positif sebagai persiapan untuk tahun depan. Sekali lagi, terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan."

Sumber: Honda Team Asia

Thursday, October 30, 2025

7 Pasangan Kakak-Adik Tersukses di MotoGP, Keluarga Marquez vs Keluarga Rossi Saling Pepet!

 

MotoGP 2025 tak pelak lagi merupakan musim spektakuler bagi Keluarga Marquez. Marc Marquez sukses jadi juara dunia, sementara sang adik, Alex Marquez, sukses jadi runner up. Mereka menjadi kakak-adik pertama yang menduduki peringkat 1-2 klasemen dalam sejarah Grand Prix.

Sejauh ini, Marc mengoleksi 11 kemenangan, sementara Alex mengoleksi tiga. Sayang, Marc absen sampai akhir musim akibat cedera bahu, sehingga koleksinya tak bisa bertambah musim ini. Di lain sisi, Alex masih bisa menambah koleksinya, karena masih ada dua seri tersisa.

Sepanjang sejarah, setidaknya ada tujuh pasangan kakak-adik yang sama-sama pernah meraih setidaknya satu kemenangan di kelas-kelas Grand Prix yang mereka ikuti. Sampai saat ini, Keluarga Rossi-Marini masih mendominasi, karena mengawinkan 121 kemenangan Grand Prix.

Statistik Keluarga Rossi-Marini vs Keluarga Marquez

Valentino Rossi diketahui mengoleksi 115 kemenangan, sementara Luca Marini mengoleksi 6 kemenangan. Marquez Bersaudara pun mengawinkan 114 kemenangan, di mana Marc mengoleksi 99 kemenangan dan Alex mengoleksi 15 kemenangan.

Namun, soal gelar dunia, koleksi Keluarga Rossi-Marini masih kalah dari Keluarga Marquez. Sebab, Rossi mengantongi 9 gelar dunia, sementara Marini belum pernah jadi juara dunia. Di lain sisi, Marc mengoleksi 9 gelar dunia, sementara Alex memiliki 2 gelar dunia.

Berikut tujuh pasangan kakak-adik yang sama-sama pernah meraih setidaknya satu kemenangan Grand Prix. Simak rinciannya yuk


Duet Kakak-Adik Pemenang Balapan Grand Prix

Can Oncu dan Deniz Oncu

  • Can Oncu: 0 gelar, 1 kemenangan, 1 podium
  • Deniz Oncu: 0 gelar, 5 kemenangan, 17 podium

Aleix Espargaro dan Pol Espargaro

  • Aleix Espargaro: 0 gelar, 3 kemenangan, 12 podium
  • Pol Espargaro: 1 gelar, 15 kemenangan, 52 podium

Brad Binder dan Darryn Binder

  • Brad Binder: 1 gelar, 17 kemenangan, 46 podium
  • Darryn Binder: 0 gelar, 1 kemenangan, 6 podium

Nobuatsu Aoki dan Haruchika Aoki

  • Nobuatsu Aoki: 0 gelar, 1 kemenangan, 7 podium
  • Haruchika Aoki: 2 gelar, 9 kemenangan, 20 podium
  • *) Takuma Aoki meraih 4 podium, tanpa kemenangan dan tanpa gelar dunia

Dominique Sarron dan Christian Sarron

  • Christian Sarron: 1 gelar, 7 kemenangan, 37 podium
  • Dominique Sarron: 0 gelar, 4 kemenangan, 16 podium

Marc Marquez dan Alex Marquez

  • Marc Marquez: 9 gelar, 99 kemenangan, 165 podium
  • Alex Marquez: 2 gelar, 15 kemenangan, 54 podium

Valentino Rossi dan Luca Marini

  • Valentino Rossi: 9 gelar, 115 kemenangan, 235 podium
  • Luca Marini: 0 gelar, 6 kemenangan, 17 podium



Wednesday, October 29, 2025

4 Pelatih yang Berpotensi Angkat Koper dari BRI Super League: Nasib Peter de Roo di Ujung Tanduk?

 

Persaingan di BRI Super League 2025/2025 makin panas. Bukan hanya di klasemen klub, beberapa pelatih juga duduk di 'kursi panas' setelah hasil yang mereka dapatkan pada pekan ke-10 BRI Super League.

Di klasemen, Borneo FC jadi tim paling konsisten. Pesut Etam selalu menang pada delapan laga yang dimainkan. Borneo FC memimpin klasemen, dengan hanya kebobolan empat kali. Posisi Fabio Lefundes sudah pasti aman.

Sebelumnya, sudah ada Eduardo Almeida yang harus kehilangan jabatan sebagai pelatih Semen Padang. Sementara, Bernardo Tavares mundur dari posisinya sebagai juru taktik PSM Makassar karena alasan finansial.

Kini, ada beberapa pelatih lagi yang mungkin akan angkat koper dari persaingan BRI Super League. Dua nama benar-benar berada dalam tekanan yakni Jan Olde Rierekink dan Peter de Roo. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini ya

Jan Olde Rierekink


Jan Olde Rierekink telah melewati proses selama dua musim bersama Dewa United. Setelah finis peringkat kedua pada musim 2024/2025, Rierekink diharapkan mampu membawa Dewa United bersaing untuk gelar juara pada musim ini.

Demi mencapai target itu, Dewa United juga berbenah di bursa transfer. Hanya saja, performa tim justru menurun. Dewa United berada di peringkat ke-12, lima kali kalah dari sembilan laga. Posisi Rierekink mulai tidak aman.

Eduardo Perez


Fans Persebaya Surabaya menaruh harapan besar pada Eduardo Perez. Dia diminta untuk melebihi catatan Paul Munster pada musim 2024/2025 lalu. Hanya saja, sejauh ini, Eduardo Perez belum menemukan titik stabil di Persebaya.

Hingga pekan ke-9, Persebaya berada di posisi ke-10 klasemen dengan 11 poin. Suara tidak puas atas kinerja Eduardo Perez mulai mengemuka di media sosial. Jika beberapa laga ke depan gagal meraih hasil positif, posisi Eduardo Perez tidak akan aman.


Peter de Roo


Peter de Roo benar-benar berada di ujung tanduk. Sebab, hasil yang didapat persis Solo sangat mengkhawatirkan. Persis Solo tidak pernah menang dalam delapan laga secara beruntun di BRI Super League.

Di bawah kendali Peter de Roo, Persis hanya mampu mendapat lima poin dari sembilan laga. Mereka berada di posisi ke-17 klasemen, hanya unggul dari Semen Padang. Persis kebobolan 18 kali dan hanya mencetak delapan gol.


Marquinhos Santos


Performa Arema FC sejatinya tidak terlalu buruk. Pada pekan ke-9, Singo Edan mampu meraih kemenangan tandang di markas PSM Makassar. Namun, hasil di laga kandang jadi beban besar bagi pelatih asal Brasil itu.

Arema FC kalah tiga laga kandang beruntun di BRI Super League. Terakhir, Singo Edan kalah dengan skor 1-3 dari Borneo FC. Usai laga tersebut, Marquinhos dapat protes langsung dari fans atau Aremania.



Resmi Bela Yamaha AS Racing di WorldSSP 2026, Aldi Satya Mahendra Janji Tampil Sebaik Mungkin

  Pembalap binaan  Yamaha Racing Indonesia ,  Aldi Satya Mahendra , resmi dipastikan bertahan di  WorldSSP  2026 dan akan membela skuad anya...